Friday, Oct 31st

Last update09:23:15 AM GMT

You are here: DAERAH PELALAWAN Seluruh Pemimpin Kubu Konflik Dipanggil

Seluruh Pemimpin Kubu Konflik Dipanggil

Bangkok (HR)-Panglim

Seluruh Pemimpin Kubu Konflik Dipanggil
Panglima Militer Thailand Tunjuk Diri Jadi Perdana Menteri
a militer Thailand, Prayuth Chan-O-Cha, mendeklarasikan diri sebagai Perdana Menteri sementara Thailand. Harian Bangkok Post melaporkan, Prayuth menjadi Perdana Menteri untuk kepentingan administrasi hingga rezim pemerintahan kudeta menemukan sosok yang sesuai untuk menempati posisi itu.Dilansir dari laman First Post, Jumat (23/5), Prayuth mengumumkan mengambil alih kekuasaan dari rezim pemerintahan Thailand yang sah dengan tujuan untuk mencegah terjadinya ketegangan. Sementara pada hari yang sama seluruh pemimpin kubu konflik dipanggil oleh junta militer.
“Karena beberapa Undang-undang menetapkan kewenangan PM tunduk di bawah hukum, maka Prayuth Chan-O-Cha dan individu yang dia tugaskan akan menegakkan otoritas di Thailand untuk sementara waktu,” ujar perwakilan Dewan Penjaga Ketertiban dan Perdamaian (NPOMC).
NPOMC merupakan badan yang baru dibentuk oleh Prayuth usai mengumumkan darurat militer pada Selasa kemarin. NPMOC juga mengumumkan bahwa konstitusi negara Thailand untuk sementara waktu dicabut. Kewenangan pemerintah juga sudah dicabut, namun senat dan badan pemerintah independen masih akan tetap bertugas seperti biasa.
NPOMC juga memerintahkan institusi pendidikan untuk dihentikan mulai hari ini hingga Minggu esok. Stasiun televisi dan radio pun telah diblokir dan hanya menyiarkan musik tradisional.
Beberapa alat komunikasi termasuk media cetak, internet, dan sinyal telepon hingga saat ini belum terpengaruh. Kendati begitu, junta militer memerintahkan media untuk tidak mewawancarai mantan pejabat pemerintahan, akademisi, hakim, atau anggota organisasi independen karena hal itu dianggap dapat menciptakan konflik atau kebingungan di antara publik.
Semua badan pemerintahan di Thailand saat ini telah beroperasi secara normal. Hubungan luar negeri juga belum terpengaruh, dan gerakan senjata dilarang.
Menurut catatan kantor berita CNN, ini merupakan kudeta dan percobaan pengambilalihan kekuasaan ke-19 sejak Thailand berubah menjadi negara monarki absolut di tahun 1932.
Panggil Ratusan Pemimpin Kubu Berkonflik
Sementara, Junta militer Thailand kemarin memanggil 155 pemimpin penting dari dua kubu yang berkonflik di negara itu. Mantan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra yang digulingkan awal bulan ini, turut diperintahkan untuk menghadap ke Dewan Pertahanan Ketertiban dan Perdamaian Naisonal (NPOMC).
Harian Bangkok Post edisi hari ini melaporkan pernyataan juru bicara NPOMC, Kolonel Winthai Suwaree, yang menyebut apabila mereka menolak untuk hadir, maka akan ditahan dan dijatuhi hukuman oleh militer.
Yingluck pun memenuhi panggilan itu dengan hadir di auditorium militer Kerajaan Thailand di Thewes dengan menggunakan mobil van Volkswagen anti peluru. Mobil tersebut juga dikawal ketat oleh para petugas keamanan.
Sebelum tiba di markas militer, sebuah tim sengaja mensterilkan area sekitar dengan mengerahkan tentara di pintu depan. Dengan kehadiran Yingluck ini sekaligus menepis spekulasi yang menyebut dia telah kabur ke luar negeri.
Selain Yingluck, PM sementara Niwattumrong Boosongpaisan turut menunjukkan batang hidungnya. Dia turut didampingi mantan Menteri Tenaga Kerja Chalerm Yubamrung, mantan Wakil Menteri Perdagangan Yanyong Phuangrach dan mantan Menteri Energi Pongsak Raktapongpaisal.
Pemimpin Komite Reformasi Rakyat Demokratik (PDRC), Achalee Paireerak, turut hadir dalam auditorium. Dia merupakan pemimpin anti Yingluck pertama yang muncul, selain Suthep yang telah lebih dulu ditahan pada Kamis kemarin oleh Jenderal Prayuth Chan-Ocha. Yangyong lah yang tiba kali pertama di markas militer sekitar pukul 09.00 waktu setempat.
WNI Jangan Pakai Baju Merah, Kuning, Hitam
Sedangkan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok, Thailand, mengeluarkan beberapa imbauan bagi warga negara Indonesia yang berada di Thailand, menyusul kudeta militer yang terjadi di negara itu, 22 Mei 2014. Imbauan ini dikeluarkan demi keselamatan para WNI di Negeri Gajah Putih itu.
Imbauan pertama adalah agar WNI menjauhi tempat tempat demonstrasi atau berkumpulnya massa, terutama di malam hari. “Apabila melihat pergerakan massa, agar segera menghindar ke tempat yang lebih aman,” tulis KBRI Bangkok melalui akun resminya di media sosial.
Kedua, jangan meninggalkan tempat tinggal atau penginapan jika tidak ada keperluan mendesak, terutama di malam hari. Terlebih militer Thailand kini memberlakukan jam malam mulai pukul 22.00 hingga pukul 05.00 waktu setempat.
Ketiga, hindari penggunaan atribut atau pakaian berwarna merah, kuning, atau hitam yang bisa disalahtafsirkan sebagai bagian dari anggota atau kelompok yang bertikai. Seperti diketahui, kelompok yang berseteru di Thailand biasa mengenakan kaos merah dan kaos kuning sebagai identitas mereka.
Keempat, hubungi KBRI bila mendapat masalah. KBRI Bangkok telah membentuk tim hasil kerjasama dengan masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Thailand untuk memberikan informasi dan bantuan yang diperlukan bagi WNI di nomor telepon (0929) 031103, (0929) 951595 dan (0929) 951596.
Publik juga bisa melihat informasi lebih lanjut mengenai perkembangan WNI di Bangkok melalui situs www.kemlu.go.id/bangkok.
Selain pemberlakuan jam malam, Thailand juga membatasi operasional beberapa transportasi. Menurut informasi dari akun media sosial Komunitas Indonesia di Thailand, BTS skytrain mulai ditutup pukul 21.00 waktu setempat.
Pusat perbelanjaan di Thailand juga ditutup lebih awal, yakni pukul 20.00. Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand Lutfi Rauf juga menyampaikan informasi bahwa seluruh sekolah di Thailand diliburkan pada tanggal 23-25 Mei 2014. Hal ini juga berlaku bagi Sekolah Indonesia Bangkok (SIB). Televisi kabel dan umum diblokir oleh militer, kecuali saat penguasa angkatan bersenjata akan menyampaikan pengumuman. (viv/rol/ivi)

Seluruh Pemimpin Kubu Konflik Dipanggil

Add comment


Security code
Refresh